Emas masih mempertahankan penurunan dari
level tertingginya dalam tiga minggu, pada pembukaan sesi Asia hari Selasa
(12/08) ini, sehubungan dengan mulai surutnya ketegangan geopolitik di Timur
Tengah dan Ukraina. Emas yang merupakan aset safe haven, mulai ditinggalkan
oleh para investor semenjak konflik negara-negara tersebut mereda karena
ekuitas global telah melonjak.
Menurut data dari Bloomberg, emas untuk pengiriman segera diperdagangkan pada $1,307.18 per ons pada pukul 09:13 pagi waktu Singapura dari $1,308.48 kemarin. Persetujuan atas serangan udara ke Irak oleh Amerika Serikat pada tanggal 8 Agustus lalu mengantarkan emas ke level tinggi $1,322.76, level tertinggi sejak tanggal 18 Juli.
Sedangkan di Comex New York, emas
berjangka untuk pengiriman Desember diperdagangkan pada $1,309 per ons dari
$1,310.50 kemarin. Sementara perak untuk pengiriman segera diperdagangkan pada
$20.0241 per ons dari $20.0186.
Risiko ketegangan geopolitik yang ditimbulkan oleh Ukraina,
Irak, dan Israel membantu
emas untuk rebound naik pada tahun ini setelah harganya sempat melorot hingga
28 persen pada tahun 2013 akibat spekulasi para investor terhadap tapering The
Fed. Dan hari ini, harga emas mundur teratur sering dengan menurunnya
permintaan.
Menurut Georgette Boele, analis dari ABN
Amro dalam wawancaranya dengan CNBC, "Apabila emas tidak dapat menunjukkan
kenaikan setelah semua ketegangan geopolitik dunia, maka ada risiko emas akan
jatuh di bawah level $1,300, tergencet oleh tekanan yang datang dari
perkembangan Federal Reserve, pengetatan suku bunga, dan Dolar AS yang makin
mantap."
Sumber: Seputar Forex

0 komentar:
Post a Comment